Google Chrome sang Istri Muda

Hari Rabu (03/09) dini hari, saya membaca postingan tentang anak baru Ibu Google, yang berwujud browser bernama Chrome. Karena saya kadang-kadang menjadi penyembah Tuhan Google, saya pun tertarik untuk mencoba.

Mulailah saya cari tentang Chrome. Hasilnya, halaman download, http://gears.google.com/chrome/ pun muncul. Err.. tapi kok di posisi ketiga hasil pencarian ya? Di atasnya ada postingan di official blog Google tentang Chrome serta komik penjelasan mengenai Chrome. Bukankah seharusnya ada di peringkat pertama?

Benar saja, saat saya klik halaman download tersebut, saya malah dialihkan ke default page Google. Saya tunggu beberapa saat, sambil kembali nge-plurk, akhirnya halaman tersebut dapat diakses. Sayangnya, proses download tak kunjung dimulai setelah saya menyetujui EULA. Akhirnya dengan sedikit keisengan, saya menemukan bahwa URL file installer tersebut adalah di http://dl.google.com/update2/installers/ChromeSetup.exe. Langsung saja saya rambah url tersebut. Benar saja, Firefox saya langsung mengunduh file bernama ChromeInstaller.exe. Tapi anehnya, setelah selesai dan saya jalankan, tak ada tanda-tanda installer tersebut bekerja.

Sadar ada yang salah, saya coba untuk melakukan pencarian lagi. Dan ternyata halaman downloadnya sudah diganti menjadi http://google.com/chrome/. Hanya dalam beberapa menit, halaman tersebut telah menduduki peringkat pertama pencarian. :shock:
Akhirnya saya mengunduh lagi installer tersebut. Dan ternyata, instalasinya masih melakukan proses pengunduhan lagi dari Google, itulah kenapa installernya sangat kecil, hanya sekitar 474,7 kB.

Dan setelah diinstal, yah, boleh jadi saya memang akan jadi berselingkuh dengannya, melanggar apa yang saya ucapkan sebelumnya. Tampilannya cukup simpel dan bersih. Tanpa ada bar-bar yang tidak perlu semacam title bar atau toolbar.

Kelebihan dari Chrome ini sendiri, sesuai yang saya baca di komiknya, adalah multi-proccessing-nya, di mana setiap tab akan memiliki sebuah blok memori tersendiri untuk melakukan pemrosesan. Sehingga ketika salah satu tab down, maka hanya tab itu yang akan ditutup, bukan seluruh aplikasi. Tidak seperti “traditional browser” yang masih multi-thread, yang rawan crash bila salah satu tab down. Itulah kenapa kini address bar, atau yang mereka sebut omnibar, masuk ke dalam area tab.

Selain itu ada beberapa macam keunggulan lain macam incognito, yaitu secure mode yang memungkinkan data-data yang kita pakai selama browsing tidak akan disimpan di komputer.

Google Chrome ini sendiri dibangun dari beberapa project open-source lain, seperti Webkit, yang juga digunakan untuk membangun Safari, (itulah kenapa saat mengunjungi beberapa blog, browser ini dikenali sebagai Safari), V8 technology untuk pemrosesan Javascript.

Ah, untuk penjelasan lebih lanjut silakan baca komiknya atau di Wikipedia saja. Yang jelas dari pengamatan pribadi, browser ini memang sedikit lebih cepat me-render halaman web. Dan saya suka itu. Browser ini juga punya element inspector, seperti kegunaan add-on Firebug di Firefox. Great!

Dan jadilah, saya pun berselingkuh dengan “istri” muda saya ini. :lol:
Update:

Ternyata saat saya pakai untuk upload foto di flickr, javascript uploadernya tidak bisa berjalan Ternyata jalan, hanya waktunya sedikit lama bila memilih banyak file

Bantengan

Pada bulan Agustus seperti ini, acara-acara yang katanya memperingati Hari Kemerdekaan negeri ini banyak digelar. Mulai dari acara lomba-lomba itu, sampai dengan festival di jalan-jalan. Nah, di daerah tempat saya tinggal, ada satu festival yang unik, yang selalu membuat jalanan penuh dengan orang-orang dari luar kampung, bahkan luar kabupaten.

Saya tidak tahu nama festival ini di tempat lain, tapi kalau di tempat saya, namanya Bantengan. Festival ini mirip dengan festival encierro di Spanyol, di mana beberapa ekor banteng akan dilepaskan di jalanan, mengamuk serta menakut-nakuti warga yang menonton. Tapiyang di tempat saya ini, bukan banteng asli yang dilepas, tapi banteng jadi-jadian. Lebih mirip seperti barongsai, di mana dua orang akan mengenakan kostum yang menyerupai banteng.

Para pemain bantengan tersebut biasanya akan menjalani sebuah ritual khusus yang penuh dengan kemenyan dan dupa sebelum memulai pawai. Kemudian saat pawai digelar di jalan, mereka akan menari-nari mengikuti musik gendingan yang disetel lewat sound-system besar di atas bak truk yang mengikuti pawai.

Saat tarian sudah mulai panas, banteng-banteng itu akan mulai “kesurupan” dan mengamuk. Mencoba melepaskan diri dari dua orang yang memegangi tali yang melilit di tanduk banteng tersebut, serta menyeruduk ke arah penonton. Pada saat inilah, keasyikan festival ini dimulai. Para penonton yang menyaksikan adegan kesurupan itu, justru malah memancing emosi sang pemain dengan ber-suit-suit serta meneriakinya. Tentu saja, banteng-banteng itu akan mengamuk dengan semakin buas dan liar, berusaha menerjang para penonton yang lari tunggang langgang.

Pawai bantengan biasanya diawali oleh tarian reog serta beberapa kuda lumping. Biasanya reog dan kuda lumping ini hanya menari-nari, tapi tak jarang juga ada yang ikut-ikut kalap dan mengamuk. Bila para pemain sudah terlalu kalap, mereka biasanya akan tak sadarkan diri. Seorang pawang akan meletakkan sebuah cemeti / pecut yang berbau kemenyan di hidung mereka. Setelah itu, bila sang pemain sadarkan diri, maka ia akan bangun dan mulai menari-nari lagi, tapi bila masih tidak sadarkan diri, maka beberapa orang akan menggotongnya untuk ditangani lebih lanjut.

Menonton festival bantengan ini memiliki kesan tersendiri dan memacu adrenalin, apalagi bila menonton di barisan paling depan ketika sang banteng mulai mengamuk. Tapi meski sedikit takut, tak sedikit penonton yang berteriak-teriak dan memancing sang banteng agar mengejar mereka.

Kemarin sebenarnya ada acara bantengan di kampung saya, tapi karena diselenggarakan pada malam hari, sementara saya hanya punya hengpon dengan kamera pas-pasan, maka saya tidak bisa mengambil skrinsyut yang layak. Maafkeun..

Nostalgia Gula Kacang

Ada yang tahu, atau bahkan gemar, makanan bernama gula kacang? Err.. saya ndak ngerti namanya yang benar. Yang jelas di tempat saya namanya “gulo kacang” jadi bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kira-kira begitulah namanya.

Gula kacang ini adalah makanan yang terbuat dari dua bahan saja, gula merah dan kacang. Jadi beberapa butir kacang “dilekatkan” dengan gula merah yang sebelumnya dicairkan. Ah, saya memang tidak bakat mendeskripsikan sesuatu, kira-kira beginilah bentuknya.

Gula Kacang

Saat saya masih kecil dulu, makanan sederhana ini adalah salah satu jajanan favorit saya. Ibu saya bahkan sering memarahi saya lantaran saya sering makan makanan ini. Bikin gigi “gigis” katanya. Rasanya yang simpel itu serta harganya yang sangat murah sekali (dulu cuma 50 perak sudah dapat yang ukurannya lumayan gede) menjadi alasan saya membelinya di toko-toko kelontong terdekat. Tapi yang saya foto itu, yang dibeli ayah saya di sebuah pasar tradisional, harganya 500 rupiah. Masih murah memang, dibandingkan makanan kota yang modern.

Hanya saja, makanan ini sudah termasuk golongan langka, bahkan nyaris punah. Dulu, hampir di setiap toko kelontong menjual makanan ini. Tapi sekarang, sangat jarang menjumpai makanan ini. Jangankan di supermarket, di kios-kios kecil saja sudah jarang. Ayah saya sengaja membeli makanan itu ketika tahu masih ada yang menjual lantaran beliau tahu anaknya yang tampan menawan ini suka dengan makanan itu. Beliau melihat ada yang menjual makanan ini ketika tengah “kulakan” di pasar.

Tentu saja, begitu sampai di rumah, riwayat sang gula kacang sudah tidak panjang lagi. Saya langsung menyantapnya tanpa ampun. Ya, saya kangen rasa gula campur kacang itu. Eh, begitu tahu anaknya ini senang saat bertemu dengan kawan lama, ibu saya tidak mau kalah. Tak tanggung-tanggung, beliau berhasil menemukan orang yang menjual gula kacang dalam bentuk bungkusan. Kata beliau harganya 3500, dengan isi sekitar 15 biji. Tapi lebih kecil dibandingkan dengan yang dibeli ayah saya.

Gula Kacang

Ah, saya benar-benar senang merasakan makanan ini lagi.

NB :
Saat postingan ini diketik, saya juga sedang mengunyah gula kacang lho..
Maaf, gambar-gambar diambil secara serampangan dengan kamera hengpon biasa

1000 Buku

Err.. hanya ingin memberi sedikit saran, jika sampeyan punya buku-buku yang sudah sampeyan khatam-kan, daripada berdebu di rak, dipinjam teman lantas tak tentu rimbanya (curcol), atau sampeyan loak-kan demi recehan uang lantas hanya menjadi bungkus kacang, mendingan sampeyan sumbangkan saja buat gerakan 1000 buku yang digalang BHI bersama CA itu..

Soal apa itu gerakan 1000 buku, silahkan baca sendiri blognya di sini..

Terima kasih..


Versi Buku vs Versi Film

Sudah tahu film terbaru Harry Potter? Saya sendiri, sebagai salah satu penggemar cerita (bukan tokohnya, apalagi pemeran dalam film!!) Harry Potter, kurang antusias dengan film terbaru itu. Satu-satunya alasan yang membuat saya pergi nonton nantinya adalah karena saya kangen dunia sihir bikinan JK Rowling yang sudah cukup lama berakhir ceritanya itu.

Kenapa saya kurang menyukai film yang diangkat dari novel adalah karena beberapa hal, yaitu

1. Pemaksaan Citra

Ketika Anda membaca novel / buku, pengarang memberi kebebasan kepada Anda untuk membayangkan seperti apa sebenarnya cerita yang terjadi. Seperti apa rupa tokoh-tokohnya, seperti apa suasana yang tercipta lewat deskripsi serta penggambaran yang menjadi petunjuk bagi pembaca untuk melakukan hal itu. Bisa jadi antara satu pembaca dengan yang lain berbeda dalam hal penggambaran itu.

Sementara dalam versi film, hanya ada satu cara untuk menggambarkan cerita, tokoh & latar, yaitu sesuai dengan pemeran serta lokasi diambilnya gambar. Tidak ada yang lain. Suka atau tidak, itulah ceritanya. Anda hanya bisa pasrah pada sutradara tentang bagaimana cerita akan berjalan.

Jujur saja, saya kurang begitu suka tokoh Harry Potter yang terlalu “tampan”, serta Dumbledore yang terlalu tua dalam film-film Harry Potter. Tokoh Severus Snape juga tak terlalu jahat, meski memang terkesan dingin dan licik.

2. Penambahan & Pengurangan Cerita

FIlm, memang tidak sebebas buku. Cerita dalam film tidak boleh terlalu panjang dan bertele-tele. Tidak seperti di buku yang bisa sampai ke mana-mana. Film dengan durasi yang terlalu panjang kebanyakan tidak disukai penonton. Akhirnya untuk penyesuaian, dilakukanlah pemotongan cerita serta penambahan bagian-bagian tertentu agar cerita masih tetap nyambung. Hanya detil-detilnya saja yang diambil.

Tapi bagi saya, hal itu cukup mengganggu. Bagaimana alur yang sudah terpatri di kepala setelah membaca novel, tiba-tiba harus diubah menjadi alur cerita baru dalam versi film. Hal ini tampaknya sudah jamak terjadi pada film-film yang diangkat dari novel. Sepanjang pengetahuan saya, satu-satunya film yang nyaris sesuai dengan buku adalah Lord of The Rings garapan Peter Jackson. Hampir semua cerita yang ada di buku ada di film. Hanya saja di film pertama ada satu cerita yang hilang, yaitu ketika Frodo dan kawan-kawan bertemu Tom Bombadil, sebelum mencapai Bree.

Tapi bila Harry Potter disebut parah dalam kasus ini, maka ada satu film yang bisa disebut hancur. Yaitu Eragon, yang ditulis oleh Christopher Paolini. Jalan ceritanya serta settingnya semua benar-benar berbeda. Adegan-adegan penuh efek, yang tidak ada dalam buku, ditambahkan secara “brutal”. Mungkin dengan maksud agar film semakin menarik. Tapi bagi pembaca bukunya, setidaknya saya, hal itu adalah dosa besar, karena akan mempengaruhi cerita secara keseluruhan.

Karena itulah, saya pikir kenapa sekuelnya, Eldest, tak kunjung dibuat. Mungkin karena sutradaranya harus berpikir bagaimana “menambal” cerita yang seharusnya ada di film pertama.

3. Penonton Bukanlah Pembaca

Mungkin ini alasan saya pribadi yang sedikit dibuat-buat. Yaitu karena menjadi pembaca itu lebih menyenangkan daripada menjadi penonton. Ketika menjadi penonton, kitalah yang menjadi pihak yang aktif. Kita yang memutuskan kapan cerita akan berlanjut atau berhenti, bahkan mungkin mundur. Berkaitan dengan alasan pertama, pembaca jugalah yang berhak menentukan seperti apa cerita berjalan. Tidak seperti penonton yang hanya bisa “terima jadi”.

Well, itulah beberapa alasan saya lebih menyukai versi buku daripada versi film. Anda mungkin berpendapat bahwa film itu memang tidak harus sama dengan buku karena beberapa alasan seperti “perbedaan cara pandang antara penulis dan sutradara” dan lain-lain. Tapi bagi saya pribadi, film itu adalah visualisasi dari buku, jadi tidak boleh ada perbedaan sedikit pun, karena hal itu akan membentuk sebuah cerita baru, yang membuat film tak lagi menjadi visualisasi dari buku, tapi adalah sebuah media cerita yang baru.
:)

At All Cost

Berbagai cara akan ditempuh manusia untuk mencapai apa yang diinginkannya. Terlepas baik atau buruk keinginannya itu. Bahkan dia akan melakukan hal yang paling tidak disukainya. At all cost.

Termasuk di dalamnya adalah ibu saya yang tersayang. Beliau rela melakukan apa saja demi membuat anaknya ini mandi :mrgreen: Ya, beberapa hari ini beliau sudah melakukan beberapa cara untuk menyuruh saya mandi, dengan kekerasan, tidak mempan. Dengan cara yang halus (menyuruh baik-baik) pun tidak berhasil. Akhirnya sore tadi beliau menggunakan cara terakhir. Memasakkan air hangat buat saya mandi. Perlu diketahui, beliau sama sekali tidak suka dengan mandi air hangat. “Seperti orang sakit”, begitu katanya. Tapi akhirnya, hal itu dipakainya sebagai jurus pamungkas melawan jurus andalan saya: “Dingin”. Dan jadilah, saya mandi untuk pertama kalinya minggu ini. :mrgreen:

The Dark Knight? Sepi tuh…

Semenjak pindah kembali ke kota kelahiran saya, ada satu hal yang harus saya korbankan, yaitu hobi saya nonton di bioskop. Ya, sungguh berbeda rasanya ketika saya di Jakarta dulu. Satu-satunya hal yang saya harus khawatirkan ketika di sana, hanyalah soal duit. Tapi kalau di sini, ah, sungguh repot. Film paling baru belum tentu akan langsung tersedia di bioskop yang cuma ada 2 yang layak itu. Tahukah Anda? Kungfu Panda pun saya belum nonton, lantaran belum diputar. Belum lagi Wanted, Hancock atau Hellboy 2 nanti. :cry:
Memang, Juni kemarin Incredible Hulk diputar hampir bersamaan dengan kota-kota lain, hanya saja waktu itu saya baru saja pindahan, sehingga kondisi ekonomi belum memungkinkan. Ouch. Saya jadinya harus menyeberang ke Surabaya untuk mengejar ketertinggalan saya di dunia perfilman. Halah.

Tapi ada satu keuntungan dalam kondisi seperti itu. Hari Sabtu (19/07) kemarin, ketika Nyonya saya mengajak nonton, saya sebenarnya sudah putus asa ketika membuka situs 21Cineplex. Paling juga film Indonesia yang, kalau tidak “hot” ya serem itu. Tapi alangkah terperanjatnya saya ketika di list paling atas film yang ditayangkan di kota ini, ada titel yang berbunyi “THE DARK KNIGHT:shock:
Kontan saja saya langsung loncat-loncat kegirangan mengiyakan ajakan Nyonya saya. Saya lihat jam pemutaran kedua sekitar pukul 15.15. Sementara jam saat itu menunjukkan waktu pukul 14.45. Nyonya saya mengajak saya cepat-cepat berangkat agar tidak kehabisan tiket, mengingat film itu film baru yang cukup booming di kota-kota lain. Iya juga, batin saya. Tapi entah kenapa, firasat saya mengatakan bahwa saya tidak akan kehabisan tiket meski nanti datang mepet.

Dan benar saja, pukul 15.00 ketika saya membeli tiket, karcisnya masih cukup banyak. Kami yang memesan tiket di barisan F, ternyata merupakan penonton yang duduk paling depan! :shock: . Jadinya yaaa, saya dan nyonya bisa nonton dan lain lain dengan nyaman dan leluasa. :mrgreen:
Entah apa yang salah, padahal film itu begitu bombastis di mana-mana, yang jelas, hal itu menyenangkan bagi saya.. :P

Fasilitas Itu Penjara

… or vice versa?

Jadi begini, di tempat kerja saya yang baru, berhubung baru saja pindahan (untuk menyambut saya mungkin :mrgreen: ), para petinggi-petinggi itu mendatangkan dan membangun banyak sekali fasilitas guna memanjakan para pegawainya, dengan harapan nantinya mereka akan kembali semangat bekerja dan hasil kerja mereka dapat bertambah.

Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain, pembaharuan PC, yang meski hanya ganti monitor jadi LCD, it is still an upgrade, eh? Kemudian ada 3 layar televisi plasma yang ditempel di tembok kantor, 2 di ruang para pegawai, sementara 1 di tempat bos. Ya, timing-nya pas sekali sebab televisi-televisi itu dipasang tepat saat Euro dimulai awal Juni lalu, sehingga manusia kalong seperti saya tidak khawatir ketinggalan informasi soal Euro.

Ada juga fasilitas cafetaria, err… saya tidak tahu gimana enaknya nyebutnya, pokoknya sudah ada ada nasi + lauk di dapur (or pantry?) serta meja makan dengan peralatan makan yang lengkap, serta ada satu set sofa tempat para ahli hisab (ahli hisab rokok alias smoker) melampiaskan nafsunya. Tak tanggung-tanggung, asbak yang disediakan ndak cuma satu, tapi sekitar 10 buah :shock: . Buat apa? Alasannya agar setiap smoker bisa pegang satu asbak sehingga asbak tidak sampai penuh.

Lantas ada satu rak penuh sandal jepit yang dapat digunakan di lingkungan kantor. Memang sejenis, tapi ada berbagai macam ukuran, mulai 36 - 43. Ya, di sini Anda tidak perlu pakai sepatu. Untuk masalah yang merasa ber-KTP dengan kolom agama bertuliskan Islam, telah disediakan musholla yang, yaaaahh… cukup luas lah, di mana tempat wudhunya tersedia sendiri (tidak perlu di toilet / kamar mandi) yang juga dilengkapi banyak handuk kecil sekali pakai (setelah dipakai untuk mengeringkan air wudhu, handuk akan masuk keranjang untuk kemudian dibuang dicuci).

Well, semuanya tampak menyenangkan bukan? Tapi, efek dari semua itu, mau tidak mau para pekerja harus bisa mengimbangi dengan mematuhi segala aturan serta dituntut untuk bekerja lebih baik. Hmmm, ya ya ya, memang begitu sebaiknya. Tapi saya agak “bosen” juga mendengar pak bos beberapa kali berteriak “Tolong sandal & sepatu yang belum masuk di rak, silahkan dimasukkan” atau “Bagi para perokok, silahkan pegang asbak tiap orang satu. Saya tidak mau lihat ada puntung atau abu rokok di taman” atau “Yang selesai minum di meja makan, tolong dikembalikan ke dapur”.

Oke-oke, itu memang contoh atasan yang baik, yang menegur bawahannya bila ada yang tidak mematuhi aturan. But ummm.. tidakkah itu terlalu berlebihan? Atau saya saja yang terlalu rule-breaker? Kalo soal kerjaan, datang terlambat misalnya (yang untungnya sudah jarang saya alami), bolehlah. Tapi kalo soal itu?

Kalau melakukan sebuah aktivitas di luar pekerjaan, makan atau ngobrol saat istirahat misalnya, jadi agak kurang nyaman, soalnya harus begini, mesti begitu. Tapi untungnya, bagi pekerja kalong macam saya, pada saat malam hari pak bos sudah tiada (pulang ke rumah maksudnya), sehingga yaaa… ada sedikit kebebasan lah.. :P


Hmmm… tampaknya memang saya yang terlalu “ugal-ugalan” :mrgreen:

What’s Wrong With My Phone Number??

Saya bingung apa yang salah dengan dengan nomer HP saya saat ini. Nomer itu sepertinya tidak mampu *halah, menerima pesan / SMS dari berbagai macam service provider. Bukan yang REG-REG itu, saya sama sekali ndak tertarik untuk itu. Tapi saat saya daftarkan nomor ini untuk registrasi beberapa layanan macam SMS-Banking nya BCA sampai layanan SMS Blogging seperti Jaiku, tidak ada yang bisa lantaran SMS yang mereka kirim untuk konfirmasi nomor tidak pernah sampai di hape saya.

Apa yang salah ya? Padahal seingat saya nomor itu telah saya daftarkan ke 4444 dengan data yang benar. Ya, akurat sampai ke huruf kapitalnya sekalian. Sekedar informasi, saya menggunakan operator “mahal” tapi bagus, Telkomsel, di mana hanya lowbat (serta pulsa yang habis) yang bisa memutuskan pembicaraan, bukannya sinyal yang hilang atau saluran yang tiba-tiba terputus. *halah, malah promosi.

Nomor ini juga rutin saya recharge tidak pernah sampai melewati masa aktif & memasuki masa tenggang. Yah, meski hanya 5 ribu kalau sedang bokek :P Apa yang salah ya kira-kira? :( Padahal saya sedang ingin memanfaatkan kedua layanan itu, karena di rumah saya masih jarang ada warnet & ATM :oops: , sehingga kalau mau online atau cek saldo cukup susah.

Sayang ndak bisa tarik duit lewat SMS Banking.. :mrgreen:

Feedwordpress + ACE = My Great Aggregator

Aha, sejak dari dulu, sebenernya saya pengen memilah-milah konten dari blog saya sesuai dengan topik yang saya bahas dalam postingan. Misalnya kalau mau ngomongin soal film ya ada blognya sendiri, mau cerita soal kegiatan sehari-hari, ya ada sendiri. Ide pertama yang muncul di otak saya adalah: menggunakan layanan blogging gratis layaknya wordpress.com atau dagdigdug. Ah, tapi satu hal merintangi saya: Bagaimana kalau blog-blog saya yang lain sepi pengunjung dan komen? :P

Hmmm, dengan bodohnya saya lalu memiliki ide untuk membuat sub-domain saja di blog saya. Semacam anak blog begitulah. Sehingga saya nanti bisa utak-utek skrip blog utama agar bisa menjadi semacam aggregator bagi subdomain-subdomain saya. Tapiiiiii…. sungguh “mahal” untuk membuat anak blog macam itu, lantaran saya harus install WP di setiap sub-domain, sementara space hostingan saya terbatas (paket termurah soalnya :D ). Dan akhirnya saya menemukan Wordpress MU (Multiple User) layaknya yang dipakai penyedia layanan blog gratis itu. Dan, lagi-lagi dengan bodohnya, saya pun me-remove semua instalasi Wordpress saya dan menggantinya dengan file-file WP MU yang ternyata instalasinya tak sesederhana WP. Jadilah, domain saya terlantar beberapa hari.

Setelah WP MU selesai terinstall, saya lalu mengutek-utek file untuk menampilkan RSS pada blog utama agar bisa menampilkan feed-feed dari subdomain saya. Maksudnya adalah agar orang yang sudah terlanjur berlangganan feed saya tidak perlu subscribe satu-satu tiap anak blog, cukup berlangganan feed utama saja. Yes, it works. Tapi ternyata hal ini punya sebuah kendala. Feed-feed dari subdomain saya akan muncul telat sekali di RSS reader macam Google Reader. Bisa-bisa saya posting hari ini, baru besok malam muncul di Reader.

Dengan putus asa, saya ternyata menemukan sebuah plugin untuk aggregator macam begitu (ah, tau gitu dari dulu) ketika membaca blog dari komunitas batagor (komunitas bloger kota Bandung) yang memang menjadi aggregator bagi blog-blog membernya. Plugin itu bernama Feedwordpress. Tak pake lama, langsung saya unduh dan pasang di blog (yang kemudian jadi aggregator, sementara blog utamanya pindah ke anak blog).

Selesai perkara (semua feed dari subdomain saya bisa muncul tepat waktu), saya jadi teringat akun saya yang ada di layanan blog gratis (wordpress & 3D). Kemudian saya putuskan bahwa kedua akun itu akan saya pakai untuk posting tentang hal-hal umum selain di blog utama. Alasannya, bila saja saya over-productive, dalam satu hari bisa posting lebih dari sekali, saya tidak mau posting saya yang paling awal terlewatkan oleh pengunjung baru. Biasanya kan pengunjung baru hanya akan membaca (or not?) postingan terakhir saja.

Dan jadilah, kedua akun itu saya aktifkan lagi dan saya daftarkan ke aggregator. Tapi-tapi-tapi, tetep saja di aggregator posting-posting dari WP.com atau 3D tetap muncul sebagai yang teratas, karena saya mem-postingnya terakhir setelah di blog utama. Kalau muncul di Reader sih tak masalah bagi saya (dasar bloger aneh).

Hmmmm, lantas sebuah ide muncul lagi, saya ingat dulu pernah diberitahu oleh om Gun tentang plugin yang dipake di blognya yaitu Advanced Category Excluder yang berguna untuk memfilter postingan-postingan yang akan ditampilkan di halaman utama sesuai dengan kategorinya. Well, akhirnya saya pun mengubah setting Feedwordpress untuk blog-blog saya yang ada di WP dan 3D agar dimasukkan ke dalam sebuah kategori khusus, dimana kategori itu nanti akan di-exclude oleh plugin ACE (Advanced Category Excluder) agar tidak tampil di halaman depan, hanya di RSS Feed saja.

Daaaannn… jreng-jreng, jadilah aggregator itu… :mrgreen:

Ohohoho… Cerita yang panjang dan membosankan.. :P

Next Page »